ARTIKEL

Menentukan Tujuan Outbound Sebelum Memilih Lokasi dan Aktivitas

9 menit baca

Rapat persiapan acara kantor hampir selalu dimulai dengan pertanyaan yang sama: “Tahun ini kita ke mana?” Padahal pertanyaan pertama yang benar-benar menentukan hasil acara adalah tujuan outbound itu sendiri — apa yang ingin berubah di dalam tim setelah acara selesai. Lokasi, aktivitas, dan durasi seharusnya menjadi jawaban atas pertanyaan itu, bukan sebaliknya.

Urutan ini terdengar sepele, tetapi konsekuensinya besar. Ketika lokasi dipilih lebih dulu, seluruh rancangan acara terkunci oleh apa yang kebetulan tersedia di sana. Fasilitator kemudian diminta “mengisi” waktu dengan permainan yang cocok dengan medan, bukan dengan kebutuhan organisasi. Acara tetap berjalan, peserta tetap tertawa, tetapi tidak ada yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya dicapai.

Artikel ini menawarkan kerangka berpikir untuk HRD dan panitia: cara menurunkan kepentingan organisasi menjadi kriteria aktivitas yang konkret, lalu memakai kriteria itu sebagai penyaring saat memilih medan. Kerangkanya sederhana dan bisa dikerjakan dalam satu rapat, asalkan dikerjakan dalam urutan yang benar.

Sesi perencanaan acara kantor sebelum menentukan lokasi outbound
Keputusan paling menentukan diambil di ruang rapat, jauh sebelum rombongan berangkat.

Kebiasaan Memilih Lokasi Lebih Dulu dan Akibatnya

Ada alasan psikologis kenapa lokasi selalu dibicarakan pertama: lokasi mudah dibayangkan. Nama tempat memunculkan gambar di kepala, sementara “meningkatkan kolaborasi lintas divisi” tidak memunculkan apa-apa. Karena itu rapat cenderung bergerak ke arah yang paling mudah diperdebatkan, dan pilihan tempat pun mengeras sebelum siapa pun sempat bertanya untuk apa.

Akibatnya muncul belakangan, dan biasanya dalam tiga bentuk. Pertama, anggaran habis di pos yang tidak menyumbang hasil — misalnya perjalanan empat jam pergi-pulang demi pemandangan, padahal kebutuhan sebenarnya adalah ruang yang tenang untuk berdiskusi. Kedua, susunan acara jadi tambal sulam karena aktivitas dipilih menurut apa yang kebetulan bisa dilakukan di lokasi tersebut. Ketiga, dan paling merugikan, tidak ada dasar untuk menilai apakah acara itu berhasil.

Gejalanya mudah dikenali. Kalau laporan pertanggungjawaban hanya berisi foto, jumlah peserta, dan penyerapan anggaran, hampir bisa dipastikan tujuan outbound-nya memang tidak pernah dirumuskan. Yang bisa dilaporkan tinggal apa yang terjadi, bukan apa yang berubah.

Tangga Penurunan: dari Kepentingan Organisasi ke Kriteria Aktivitas

Kerangka penurunan tujuan outbound berikut membalik urutan yang biasa dipakai. Ia bergerak dari hal yang paling abstrak ke hal yang paling teknis, satu anak tangga setiap kali. Aturannya cuma satu: jangan naik ke anak tangga berikutnya sebelum yang sekarang punya jawaban dalam satu kalimat.

Anak tangga 1 — Sebutkan masalahnya, bukan keinginannya

“Ingin acara yang seru” bukan masalah, itu keinginan. Masalah adalah sesuatu yang sudah terlihat gejalanya di kantor: dua divisi yang saling melempar tanggung jawab, angkatan karyawan baru yang belum mengenal siapa pun di luar timnya, atau tim yang baru melewati periode kerja berat dan mulai kehilangan tenaga.

Sumber informasinya biasanya sudah ada: hasil survei kepuasan kerja, catatan penilaian kinerja, keluhan yang berulang di rapat manajemen, atau angka pergantian karyawan pada satu departemen tertentu. Rumuskan satu masalah utama saja. Acara satu hari tidak bisa memperbaiki lima hal sekaligus.

Anak tangga 2 — Ubah masalah menjadi perubahan perilaku

Masalah organisasi terlalu besar untuk langsung dijadikan patokan. Turunkan menjadi perilaku yang ingin terlihat setelah acara. Bukan “kolaborasi meningkat”, melainkan “orang dari divisi berbeda saling menghubungi lebih dulu ketika ada pekerjaan yang bersinggungan”.

Perilaku bisa diamati, sementara sikap tidak. Perbedaan ini penting karena menentukan apakah hasil acara bisa dievaluasi. Kerangka evaluasi pelatihan yang paling banyak dipakai, model empat tingkat yang disusun Donald Kirkpatrick, meletakkan perubahan perilaku di tingkat ketiga — di atas kepuasan peserta dan di atas pemahaman materi. Sebagian besar acara berhenti mengukur di tingkat pertama, yaitu apakah pesertanya senang.

Anak tangga 3 — Turunkan perilaku menjadi kriteria aktivitas

Inilah anak tangga yang paling sering dilewati, dan justru yang paling menentukan. Kriteria aktivitas adalah syarat yang harus dipenuhi sebuah permainan agar perilaku sasaran benar-benar terlatih. Bentuknya kalimat teknis, bukan nama permainan.

Contoh kriteria untuk sasaran kolaborasi lintas divisi: kelompok harus dicampur dan tidak boleh mengikuti struktur kerja sehari-hari; tugas harus mustahil diselesaikan sendirian; informasi harus terbagi sehingga tidak ada satu orang pun yang memegang gambaran utuh; dan harus ada sesi pembahasan setelahnya. Dengan kriteria selengkap ini, pemilihan jenis permainan outbound berubah dari soal selera menjadi soal penyaringan.

Kriteria juga menyelamatkan panitia dari perdebatan yang tidak perlu. Ketika ada usulan permainan baru, pertanyaannya bukan lagi “seru tidak?” melainkan “memenuhi kriteria yang mana?”.

Anak tangga 4 — Baru pilih medan dan lokasi

Setelah kriteria tersusun, kebutuhan medan muncul dengan sendirinya. Aktivitas yang menuntut diskusi intens perlu area teduh dan relatif sunyi. Aktivitas yang menuntut koordinasi seluruh peserta sekaligus butuh lapangan lapang tanpa penghalang. Program yang menyisipkan sesi materi memerlukan ruang tertutup — dan syarat itu langsung menyempitkan pilihan ke lokasi outbound dengan fasilitas meeting room.

Pada titik ini, membandingkan daftar tempat outbound di Malang menjadi pekerjaan yang cepat, karena sebagian besar pilihan gugur sendiri oleh kriteria. Yang tersisa tinggal soal jarak tempuh, kapasitas, dan anggaran.

Aktivitas kelompok yang dirancang mengikuti tujuan outbound perusahaan
Bentuk aktivitas mengikuti kriteria; medan menyesuaikan aktivitas, bukan sebaliknya.

Tiga Tujuan yang Paling Sering Muncul dan Wujud Turunannya

Dari sekian banyak rumusan, sebagian besar kebutuhan perusahaan bermuara pada tiga kelompok tujuan outbound berikut. Tabel ini bukan daftar paket, melainkan contoh bagaimana satu tujuan berubah bentuk di setiap anak tangga.

Tujuan organisasi Perilaku sasaran Kriteria aktivitas Implikasi medan
Pemulihan tenaga setelah periode kerja berat Peserta kembali bekerja dengan energi dan suasana hati yang lebih baik Beban fisik ringan, jadwal longgar, banyak waktu bebas, unsur kompetisi ditekan Kenyamanan suasana lebih menentukan daripada luas lahan
Pengenalan antara karyawan baru dan lama Peserta mengenal nama, peran, dan cara kerja rekan di luar timnya Kelompok diacak, rotasi pasangan sering, permainan singkat dan berulang Area yang memungkinkan banyak pos berdekatan
Perbaikan koordinasi lintas divisi Antar-divisi saling menghubungi lebih awal saat pekerjaan bersinggungan Tugas tak bisa diselesaikan sendiri, informasi sengaja dipecah, ada sesi pembahasan Butuh ruang diskusi yang teduh dan cukup tenang

Perhatikan bahwa tiga tujuan ini menuntut rancangan yang berbeda, bahkan sebagian bertolak belakang. Kompetisi yang menghidupkan acara pengenalan justru bisa mengganggu acara pemulihan tenaga. Karena itu menggabungkan ketiganya dalam satu acara sehari umumnya menghasilkan sesuatu yang setengah jadi di semua sisi. Perbedaan pendekatan semacam ini pula yang memisahkan outbound rekreasional dan outbound training sebagai dua jenis program.

Tujuan menentukan durasi, bukan sebaliknya

Kekeliruan serupa terjadi pada durasi. Panitia sering menetapkan “dua hari satu malam” lebih dulu karena begitulah tahun lalu. Padahal sasaran pengenalan antar-karyawan memang menuntut waktu bermalam, sementara sasaran koordinasi satu tim kecil bisa selesai dalam setengah hari yang padat. Pertimbangan lengkapnya dibahas terpisah dalam panduan durasi outbound yang efektif.

Sesi pembahasan adalah tempat tujuan diucapkan

Aktivitas hanya menciptakan pengalaman; maknanya dibangun saat pengalaman itu dibicarakan. Ini prinsip dasar pembelajaran berbasis pengalaman, dan dalam praktik lapangan ia mengambil bentuk sesi debriefing setelah aktivitas. Kalau tujuan tidak pernah dirumuskan, sesi ini biasanya dilewati — karena memang tidak ada benang merah yang perlu ditarik.

Menguji Rumusan Tujuan Outbound Sebelum Dipakai Memilih

Sebelum kriteria dipakai menyaring lokasi, uji dulu rumusannya dengan tiga pertanyaan singkat. Semuanya bisa dijawab dalam lima menit rapat.

  • Uji satu kalimat. Bisakah tujuannya diucapkan dalam satu kalimat tanpa kata “dan”? Setiap “dan” biasanya menandakan tujuan kedua yang menyelinap masuk.
  • Uji pemilik masalah. Siapa yang merasakan masalah ini? Kalau jawabannya hanya satu orang di jajaran manajemen, itu preferensi, bukan kebutuhan organisasi.
  • Uji tanda keberhasilan. Apa yang akan terlihat berbeda tiga bulan setelah acara? Kalau tidak ada jawaban, tujuannya belum turun sampai ke tingkat perilaku. Prinsip perumusan sasaran yang spesifik dan terukur seperti pada kriteria SMART membantu di tahap ini.

Empat kekeliruan yang berulang

Pertama, menyamakan tujuan dengan tema. Tema acara adalah bungkus komunikasi; tujuan adalah perubahan yang dikejar. Keduanya boleh ada, tetapi jangan tertukar.

Kedua, menetapkan tujuan setelah lokasi dipesan. Ini paling sering terjadi ketika anggaran harus segera diserap. Kalau situasinya memang begitu, jujurlah pada diri sendiri: rumuskan tujuan yang masih realistis di lokasi tersebut, jangan memaksakan sasaran yang medannya tidak mendukung.

Ketiga, menyerahkan perumusan tujuan sepenuhnya kepada penyedia jasa. Penyelenggara paham merancang aktivitas, tetapi tidak mengenal dinamika internal perusahaan Anda. Pembagian yang sehat: perusahaan membawa masalah dan sasaran perilaku, penyelenggara menerjemahkannya menjadi rancangan acara. Pembagian peran ini juga menjadi salah satu penanda saat menilai kualitas penyedia jasa outbound — pihak yang langsung menawarkan paket tanpa menanyakan kondisi tim biasanya bekerja dari katalog, bukan dari kebutuhan.

Keempat, tidak memberi tahu peserta. Tujuan tidak perlu diumumkan sebagai target formal, tetapi peserta berhak tahu kenapa mereka dikumpulkan. Kalimat pembuka dari pimpinan yang menyebut alasan acara diadakan mengubah cara peserta mengikuti seluruh rangkaian.

Peserta mengikuti sesi kelompok dengan sasaran perilaku yang sudah ditetapkan
Peserta yang tahu alasan acara diadakan mengikuti sesi dengan cara yang berbeda.

Menuliskannya menjadi brief satu halaman

Hasil dari seluruh tangga tadi — rumusan tujuan outbound beserta seluruh turunannya — sebaiknya ditulis, sependek apa pun. Satu halaman sudah cukup: masalah organisasi, perilaku sasaran, daftar kriteria aktivitas, jumlah dan komposisi peserta, batasan fisik yang perlu diperhatikan, serta anggaran. Dokumen inilah yang dikirim ke penyelenggara — bukan pertanyaan “ada paket apa saja?”.

Brief semacam ini juga mempercepat penyusunan rundown acara outbound dan menjadi rujukan ketika ada permintaan perubahan mendadak. Setiap usulan tinggal diuji dengan satu pertanyaan: apakah masih melayani tujuan yang sama? Untuk rombongan besar, kejelasan seperti ini makin menentukan, seperti terlihat pada pengelolaan outing perusahaan skala besar. Program pengembangan yang lebih terstruktur, seperti program capacity building atau rangkaian team building, praktis tidak bisa dirancang tanpa dokumen semacam ini.

Pertanyaan yang Sering Diajukan seputar Tujuan Outbound

Apa bedanya tujuan outbound dengan tema acara?

Tujuan adalah perubahan yang ingin dicapai pada tim, misalnya koordinasi antar-divisi yang lebih cepat. Tema adalah kemasan komunikasi acara, misalnya “Satu Langkah Bersama”. Tema membantu peserta merasa terlibat dan memudahkan pembuatan atribut, tetapi tema tidak menentukan rancangan aktivitas. Yang menentukan pilihan permainan, durasi, dan lokasi tetap tujuannya.

Bolehkah satu acara punya lebih dari satu tujuan?

Boleh, asalkan urutan prioritasnya jelas dan durasinya memadai. Tetapkan satu tujuan utama sebagai dasar rancangan, lalu tujuan kedua sebagai pelengkap yang tidak boleh mengorbankan yang pertama. Untuk acara sehari, satu tujuan utama umumnya lebih realistis. Acara dua hari memberi ruang bagi dua sasaran karena sesinya bisa dipisahkan waktunya.

Bagaimana mengukur keberhasilan tujuan outbound?

Gabungkan tiga sumber. Pertama, survei singkat sesudah acara untuk menangkap kesan peserta. Kedua, pengamatan perilaku dalam satu sampai tiga bulan berikutnya, dibandingkan dengan gejala masalah yang tercatat sebelum acara. Ketiga, masukan dari atasan langsung tiap tim. Ukuran yang hanya bertumpu pada kepuasan peserta tidak cukup untuk menilai perubahan perilaku.

Bagaimana jika manajemen sudah menetapkan lokasi lebih dulu?

Balik urutannya seperlunya: telaah dulu apa yang mungkin dan tidak mungkin dilakukan di lokasi itu, lalu rumuskan tujuan yang masih bisa dicapai di sana. Ini bukan kondisi ideal, tetapi jauh lebih baik daripada menjalankan acara tanpa sasaran sama sekali. Sampaikan juga keterbatasannya kepada manajemen sebagai catatan untuk acara berikutnya.

Tujuan Dulu, Medan Kemudian

Menentukan tujuan outbound sebelum memilih lokasi bukan berarti menambah birokrasi pada persiapan acara. Justru sebaliknya: satu rumusan tujuan yang jelas memangkas perdebatan, mempersempit pilihan lokasi secara otomatis, dan memberi dasar untuk menilai hasil. Panitia yang datang ke rapat dengan brief satu halaman biasanya menyelesaikan persiapan lebih cepat daripada panitia yang datang dengan daftar tempat wisata.

Kerangkanya bisa diringkas begini: kenali masalahnya, terjemahkan menjadi perilaku, turunkan menjadi kriteria aktivitas, baru cari medan yang memenuhinya. Empat langkah, dalam urutan itu, dan jangan dibalik. Manfaat jangka panjangnya terasa pada acara berikutnya, karena catatan tujuan tahun ini menjadi titik awal evaluasi tahun depan — hal yang juga terlihat pada manfaat gathering kantor yang diselenggarakan secara berkala.

Kalau rumusan tujuan tim Anda sudah siap dan tinggal dicocokkan dengan aktivitas serta lokasi yang tersedia, telusuri gambaran paket outbound Malang yang ada, atau bicarakan kebutuhan spesifik acara Anda melalui halaman kontak First Outbound. Untuk memperdalam sisi lain persiapan acara, tersedia pula kumpulan bacaan di halaman artikel.